BERKREASI, BERINOVASI MELALUI TRADISI – FESTIVAL PERMAINAN TRADISIONAL SMAN 12 SEMARANG

Dalam rangka pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), SMA Negeri 12 Semarang sukses melaksanakan  Pembelajaran Projek yang kedua. Setelah sukses melaksanakan Projek pertama yaitu dengan Tema Kewirausahaan dalam hal ini olahan pisang, singkong dan talas untuk dijadikan keripik. Pada Projek kedua tema yang dipilih adalah Kearifan Lokal yaitu Permainan Tradisional. Latar belakang memilih tema permainan tradisional dikarenakan di era modern 4.0 saat ini, peserta didik perlu diperkenalkan kembali tentang permainan tradisional untuk belajar bagaimana cara membuat, filosofi permainan, dan juga aturan permainannya.

Pembelajaran Projek Tema Kearifan Lokal Permainan Tradisional dilaksanakan mulai tanggal 14 – 25 November 2022 dengan membentuk Tim Pembelajaran Projek kedua. Sebagai Pimpinan Projek adalah Ibu Turini Adi Agustini, S.Pd, (Guru Bahasa Indonesia) kemudian setiap kelas para peserta didik mendapat pendampingan oleh koordinator (Wali Kelas X), fasilitator dan pendamping kelompok. Adapun yang terlibat dalam pembelajaran projek adalah ibu dan bapak guru pengampu kelas X dan beberapa guru mengajar kelas XI dan XII. Setelah tim terbentuk, melaksanakan koordinasi, membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran Projek, dan termasuk mempersiapkan bahan ajar.

Selama 3 (tiga) hari,  peserta didik kelas X memperoleh gambaran tentang rundown kegiatan projek ke-2 permainan tradisional selama 2 pekan, membagi kelompok, mendapat pengetahuan tentang apa itu kearifan lokal, permainan tradisional, dan bagaimana membuat buku yang baik, juga menyiapkan selebrasi festival permainan tradisional yang akan dipentaskan tiap kelas.

 

Produk yang diharapkan adalah siswa dapat membuat buku yang berisi tentang permainan tradisional, maka peserta didik diminta untuk mengeksplore sebanyak-banyaknya permainan tradisional yang ada di Nusantara melalui browsing di internet. Selanjutnya peserta didik  melakukan editing bersama kelompoknya. Selain browsing di internet, peserta didik juga menggali informasi tentang permainan tradisional dengan mewawancarai narasumber yang ada di lingkungan sekitarnya. Hasil wawancara berupa video  diunggah di YouTube. Peserta didik juga harus mempresentasikan hasil wawancaranya  dengan menggunakan PPT yang dibuat kelompoknya. PPT dan video sangat beragam dan menarik. Ternyata peserta didik  mampu berkreasi dan berinovasi melalui video dan PPT yang dibuat.

Hari berikutnya peserta didik mulai mengambil alat dan bahan yang sudah disiapkan sekolah untuk membuat produk permainan tradisional. Sebelumnya peserta didik dibekali teknis membuat mainan tradisional yang sudah diundi untuk tiap kelompok. Ada kelompok egrang, bakiak, gangsingan, yoyo, dakon, layang-layang. Teknis membuat mainan tradisional disampaikan oleh tim teknis. Selama 3 hari peserta didik benar-benar belajar membuat, memroses bahan yang mereka peroleh menjadi mainan tradisional. Bukan sesuatu yang mudah,  namun kegigihan peserta didik untuk terus berusaha menghasilkan karya, benar-benar luarbiasa. Peserta didik  berhasil membuat egrang, bakiak, layang-layang, dakon, yoyo, gangsingan dengan kreasi mereka.

Tidak sekedar membuat produk mainan tradisional,  3 hari berikutnya peserta didik  berkompetisi dengan kelas lain untuk berlomba. Jadi, peserta didik tidak sekadar tahu asal, filosofi permainan, cara membuat, gambar namun juga bisa memainkan mainan tradisional tersebut melalui lomba yang mereka ikuti. Ternyata peserta didik  mahir menggunakan permainan tradisional yang sudah mereka buat.

Selebrasi festival permainan tradisional yang digelar pada Jumat 25 November 2022, merupakan puncak perayaan peserta didik setelah mereka berjuang membuat buku, membuat video wawancara dengan narasumber, presentasi di kelas, membuat sendiri mainan tradisional. Dengan menampilkan kreasi seni dikolaborasikan dengan mainan tradisional yang sudah dibuat, menjadi sebuah tontonan yang menarik. Mainan tradisional yang dianggap kuno,  ternyata menjadi sajian menawan yang dipentaskan di panggung.

Dalam acara selebrasi tersebut Kepala SMA Negeri 12 Semarang, Dr. Endah Dyah Wardani, M.Pd menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan projek kedua tema kearifan lokal dengan mengambil sasaran permainan tradisional. Beliau menyampaikan dukungan bahkan kekaguman  atas pencapaian peserta didik selama pelaksanaan projek kedua. Melalui Pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema kearifan lokal projek permainan tradisional, peserta didik belajar tentang kegigihan, pantang menyerah, kolaborasi, berkreasi, bangga dengan hasil karya sendiri, sportif, peduli, menjaga kekompakan dan kebersamaan, dan tentu saja mampu melestarikan kearifan lokal budaya warisan leluhur.

 

Produk pertama yang dihasilkan peserta didik selama mengikuti projek kedua (Kearifan Lokal) adalah buku permainan tradisional yang berisi asal usul permainan, filosofi permainan, cara membuat alat permainan, cara memainkan, gambar permainan. Produk kedua adalah hasil wawancara berupa video dengan narasumber tentang permainan tradisional yang diunggah di YouTube. Produk ketiga berupa power point presentasi hasil wawancara dengan narasumber. Produk keempat adalah membuat mainan tradisional yang dibuat perkelompok meliputi egrang, bakiak, gangsingan, yoyo, layang-layang, dakon. Selain produk permainan tradisional karya peserta didik tersebut, juga dilombakan dan dipentaskan.

Penulis : Turini Adi Agustini, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia SMAN 12 Semarang)
Editor : Yekti Wikani, M.Pd. ( Waka Humas SMAN 12 Semarang)