Fasilitasi dan Advokasi Pendampingan Siswa Rentan Putus Sekolah

Strategi Pencegahan Siswa Putus Sekolah (Selasa, 31 Mei 2022) Intervensi Kebijakan anak putus sekolah yang sekarang menjadi isu nasional adalah Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Angka Partisipasi Kasar (APK).

ATS adalah anak usia 7-18 tahun yang tidak bersekolah, putus sekolah tanpa menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu, ataupun putus sekolah tanpa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Bappenas, 2020). Dengan adanya Direktorat SMA melakukan fasilitasi dan advokasi kepada sekolah untuk memberikan jaminan kepada anak-anak rentan putus sekolah untuk melanjutkan sekolah. Pendampingan dan mengatasi permasalahan terhadap anak putus sekolah menginisiasi solusi baik dari tingkat sekolah dan Cabang Dinas Pendidikan.

Kepala Cabang Dinas Wilayah I, Bapak Sunarto dalam koordinasi advokasi pendampingan siswa rentan putus sekolah pada hari Senin, 23 Mei 2022 melaui Zoom Meeting menyampaikan bahwa akan dilaksanakan Fasilitasi Advokasi Pencegahan anak putus sekolah di tingkat Cabang Dinas Pendidikan. Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I, terdapat 4 piloting, salah satunya adalah SMAN 12 Semarang sebagai sekolah piloting. Setiap sekolah piloting mengundang 10 sekolah disekitarnya.

SMAN 12 Semarang sebagai sekolah piloting Pelaksanaan Fasilitasi dan Advokasi Pencegahan Siswa Rentan Putus Sekolah dilaksanakan pada hari Selasa, 31 Mei 2022 yang dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, 10 SMA Negeri dan Swasta dan Narasumber Uzlipah & Jim Bar Pen (Direktorat SMA Kemdikbud) juga dibuka oleh Kepala SMAN 12 Semarang Dr. Endah Dyah Wardani, M.Pd dalam sambutannya menyampaikan, dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan siswa rentan putus sekolah sehingga siswa dapat menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Bapak Uzlipah dan Jim Bar Pen (Direktorat SMA) dalam paparan materinya menyampaikan bahwa penyebab anak rentan utamanya adalah faktor ekonomi, dan beberapa daerah karena pernikahan dini dan disabilitas. Strategi pencegahan siswa putus sekolah adalah dengan identifikasi diri dari siswa (kehadiran, perilaku bermasalah dan perkembangan belajar) dan perlunya pendampingan dengan fasilitasi, motivasi dan inspirasi.

Diharapkan dengan penanganan siswa putus sekolah dapat menurunkan angka putus sekolah, dengan advokasi untuk antisispasi agak anak bisa menyelesaikan pendidikan. Kegitan fasilitasi dan advokasi akan berkelanjutan dengan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan dilaksanakan pada akhir bulan Juli s.d. awal bulan Agustus.