SMART PARENTING GENERASI STRAWBERRY ”POLA ASUH IDEAL DAN PROBLEMATIKA REMAJA GEN-Z”

Semarang, Jumat 11 November 2022 SMA Negeri 12 Semarang mengadakan kegiatan Smart Parenting dengan Narasumber dari Universitas PGRI Semarang yaitu Dr. Arri Handayani, S.Psi., M.Si. Kegiatan parenting yang sudah rutin dilaksanakan ini bertempat di Ruang Multimedia Lantai 3 SMA N 12 Semarang. Adapun sasaran dari kegiatan Parenting ini adalah perwakilan 2 orang tua/wali peserta didik  dari setiap kelas di kelas X dan XI, dengan kriteria orang tua yang mempunyai masalah relasi atau komunikasi yang tidak baik dengan anaknya, orang tua/wali peserta didik yang sering konsultasi terkait perkembangan anaknya, serta dari hasil asessmen yang sudah dilakukan oleh Guru BK melalui serangkaian layanan bimbingan konseling baik secara klasikal maupun individual.

Tema yang diangkat pada Smart Parenting kali ini adalah Generasi Strawberry “Pola Asuh Ideal Dan Problematika Remaja Gen-Z”. Tema tersebut diangkat dikarenakan banyaknya fenomena yang terjadi pada saat ini, dimana banyak remaja yang mengalami problematika hidup namun dihadapi dengan cara mengeluh tanpa mencari solusi.

Dalam sambutan yang disampaikan oleh Kepala SMA N 12 Semarang, Ibu Dr. Endah Dyah Wardani, M.Pd., “Sekolah dan orang tua perlu bersinergi dalam mendampingi perkembangan putra putrinya. Ditengah perkembangan teknologi dan media social yang tidak terbendung ini, perkembangan dan pertumbuhan sikap, perilaku dan karakter anak perlu dipahami oleh orang tua.”

Dari pemaparan materi yang disampaikan oleh Dr. Arri Handayani, S.Psi., M.Si.  menuturkan bahwa media social memiliki andil yang besar terhadap pembentukan karakter generasi strawberry. Nilai negatif dari generasi strawberry ini adalah anak cenderung bersikap egosentris dan individualis, tidaksabaran dan kurang menghargai proses, mudah terpengaruh, berkurang dalam komunikasi verbal, serta menginginkan hasil yang serba cepat, instan, dan mudah. Namun dibalik itu ada nilai positif yang dimiliki yaitu rasa ingin tahu dan kreatifitas yang tinggi, dan multitasking.

Pada sesi dialog interaktif juga muncul banyak pertanyaan dari peserta parenting, salah satunya datang dari wali murid kelas XI yang bertanya bahwa, “ Generasi Z sulit untuk mencari jati diri. Bagaimana cara orang tua untuk memprotek anak-anak agar tidak terjerumus ke hal yang kurang baik?”. Narasumber menjawab agar anak-anak bisa diberikan kegiatan yang positif dan sesuai dengan passion yang dimiliki.

Beberapa prediksi pada generasi Z yang masuk dalam angkatan kerja ini mereka memberikan dampak perubahan besar bagi iklim organisasi. Kurang suka sebagai pegawai, dan tidak bertahan lama pada suatu pekerjaan. Seiring dengan tingkat kemakmuran dan tingginya pendidikan, mereka cenderung lebih ingin menjadi bos, menjadi individu penuntut yang menginginkan keseimbangan hidup.

Adapun strategi yang perlu dipersiapkan menghadapi tantangan generasi Z ini adalah orang tua dan  pendidik membimbing dan memfasilitasi supaya anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan jamannya serta dapat memanfaatkan kehadiran teknologi secara tepat dan benar. Langkah nyata yang bisa ditempuh adalah dengan membangun mental, yang harus dibangun oleh orang tua tentang bagaimana cara anak berpikir, bagaimana cara anak merasa, dan bertindak. Memberikan kepercayaan pada anak untuk mengerjakan tanggung jawabnya, melatih anak untuk mengambil keputusan serta memahami setiap kondisi yang dialaminya.

Dengan terselenggaranya kegiatan parenting, diharapkan para orang tua mampu menerapkan pola asuh yang ideal untuk putra putrinya sesuai dengan perkembangan zaman dan terjalin komunikasi yang harmonis antara sekolah dan orang tua.

Penulis : Nor Wakhidah Lutfiani, S.Pd. (Guru BK SMAN 12 Semarang)
Editor : Yekti Wikani, M.Pd ( Humas SMAN 12 Semarang)